About Me

Pages

About this blog

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

About Me

Followers

Rabu, 10 April 2013

PostHeaderIcon Pedagogi, TIK & Fenomena Kontemporer

1.       Pertanyaan Esensial
Terdapat beebrapa pertanyaan esensial yang harus dijawab oleh seorang guru efektif berkaitan dengan masalah-masalah pedagogi:
·         Penilaian kebutuhan: materi belajar apa yg dibutuhkan?
·         Pertumbuhan profesional: cara meningkatkan mutu pengajaran di kelas?
·         Budaya Kelas: cara menumbuhkan budaya kelas untuk belajar?
·         Strategi: bagaimana guru mengajar untuk memaksimalkan hasil?
·   Pengelolaan Sumber Daya Kelas: bagaimana membuat media pembelajaran dan apa kegunaannya dalam pembelajaran?
·         Pemecahan masalah: apa permasalahan dalam pengajaran dan cara mengatasinya?
·         Orkrestasi: bagaimana guru mengatur semua aspek yang berbeda dari pedagogi?
·         Penggunaan TIK: aplikasi TIK dalam pembelajaran yang memenuhi kriteris pedagogi?

2.      Pedagogi Efektif
Pedagogi akan berjalan dengan efektif jika guru:
·         Menciptakan lingkungan yang menunjang pembelajaran
·         Mendorong pemikiran reflektif dan tindakan
·         Meningkatkan relevansi pembelajaran baru
·         Memfasilitasi pembelajaran bersama
·         Mengkoneksikan pembelajaran dengan pengalaman sebelumnya
·         Memberikan kesempatan pada siswa untuk belajar
·         Menyelidiki hubungan belajar-mengajar

Menunjang Pembelajaran: Guru yang baik harus mampu menunjang pembelajaran dengan membina hubungan positif dalam lingkungan yang peduli, inklusif, non-diskriminatif, dan kohesif. Guru juga harus mampu membangun hubungan yang baik dengan komunitas sekolah dan bekerja-sama dengan orang tua yang memiliki pengetahuan tentang bagaimana memajukan pembelajaran anak mereka

3.      Pemikiran Reflektif
Pembelajar (siswa) yang reflektif ialah siswa yang mampu mengasimilasi pembelajaran baru, mengaitkannya dengan apa yang sudah diketahui, mengadaptasinya untuk tujuan tertentu, menerjemahkan pikiran dalam tindakan, mampu mengembangkan kreatifitas, mampu berpikir kritis.
a)      Pembelajaran Baru:
Siswa efektif: memahami apa yang dipelajari, mengapa belajar materi tersebut, bagaimana menggunakan hasil belajar dalam kehidupan.
Guru efektif: mampu merangsang keingintahuan murid, meminta siswa mencari informasi dan ide yang relevan, menantang siswa untuk menggunakan dan menerapkan materi dengan cara baru dan konteks baru.
b)  Pembelajaran Bersama: Guru mendorong siswa untuk terlibat dalam pembelajaran bersama dengan orang lain, hal ini akan meningkatkan kemampuan siswa dalam membangun bahasa dan memperluas pengetahuan.
c) Koneksi Pengalaman: Siswa dikatakan belajar dengan baik ketika ia mampu mengintegrasikan pembelajaran baru dengan pengalaman yang sudah mereka pahami.
d)   Kesempatan Belajar: Siswa dikatakan belajar dengan efektif ketika mereka memiliki waktu dan kesempatan untuk terlibat dengan, berlatih, dan mentransfer pembelajaran baru.
e)  Sebagai Penyelidikan: Guru harus menyelidiki dampak pembelajaran yang diberikan terhadap siswanya.



4.      TIK dan Pedagogi
Pembelajaran yang difasilitasi dengan TIK disebut dengan e-learning. Manfaat TIK:
·         Membuat koneksi yang memungkinkan siswa menjelajahi lingkungan belajar yang baru, tanpa dibatasi jarak dan waktu
·         Memfasilitasi pembelajaran bersama lewat komunitas belajar diluar kelas
·         Menciptakan lingkungan yang menunjang pembelajaran
·         Meningkatkan kesempatan belajar dengan alat-alat yang menghemat waktu

5.      Kenikmatan Belajar
a)      Fenomena Kontemporer (Peranan TIK)
Memungkinkan guru untuk memahami konsekuensi dari interaksi pembelajaran dengan cara yang relatif sederhana.
Namun, peranan TIK bukan menjadikan kehadiran guru dikelas tidak penting, guru tetap penting karena guru merupakan pesintesis / reflektor, yaitu orang yang memiliki tanggung jawab untuk membuat aktifitas kelas terlihat lebih bermakna bagi semua siswa.
b)      Sama-sama Pembelajar
Guru dan siswa merupakan pihak yang sama-sama ‘belajar’, sehingga:
-          Perlu ada ruang dan kesempatan untuk mengeksplorasi
-          Siswa dapat dipersepsi sebagai ‘partner’ belajar bagi guru
-          Guru berperan meyakinkan bahwa semua pelajar perlu didukung
-     Cakupan materi menjadi kurang penting dibandingkan ruang dan kesempatan yang meyakinkan untuk mengeksplorasi
-   Kriteria penting untuk pemilihan konten harus memfasilitasi kegunaannya dalam eksplorasi
-         Hasil bukan menjadi hal utama, tetapi Proses Perkembangan.

Senin, 25 Maret 2013

PostHeaderIcon Perilaku Delinkuen Remaja (Kenakalan Remaja)

Dewasa ini kasus kriminalitas di kalangan remaja semakin meningkat. Maraknya pemberitaan kriminalitas dikalangan remaja pada banyak media semakin meningkatkan citra buruk remaja di lingkungan sosialnya. Remaja di lingkungan sosial sering dianggap sebagai kelompok yang senang membuat kekacauan dan perkelahian.
Perilaku remaja yang mampu mencelakakan dirinya sendiri maupun orang lain disebut dengan Perilaku Delinkuen. Kasus-kasus kriminalitas seperti penggunaan narkoba dan obat-obatan terlarang di kalangan remaja, keterlibatan para remaja dalam tawuran dan pembantaian terhadap siswa, meningkatnya kasus seks pranikah, kasus pengeroyokan, perampokan serta penyalahgunaan senjata tajam, apabila ditelusuri disebabkan oleh merasa terabaikannya para remaja oleh lingkungannya.
Perilaku non-kriminal namun melanggar norma juga banyak dilakukan remaja sebagai bentuk protes terhadap lingkungannya, seperti remaja yang merokok layaknya orang dewasa, perilaku memakai pakaian yang ketat dan minim ke sekolah bagi remaja putri, pemberontakan terhadap guru dan orangtua, dan banyak hal lainnya.
Lingkungan yang kurang memberi perhatian dan dukungan bagi remaja membuat remaja merasa terabaikan sehingga terdorong untuk melakukan perilaku yang menyimpang dari norma. Dengan perilaku tersebut, remaja berusaha mendapatkan perhatian dari lingkungannya.
Masa remaja adalah masa krisis identitas bagi kebanyakan anak remaja. Remaja sedang mencari-cari figur panutan, namun figur itu tidak ada didekatnya. Secara umum dan dalam kondisi normal sekalipun, masa ini merupakan periode yang sulit untuk ditempuh, baik secara individual ataupun kelompok, sehingga remaja sering dikatakan sebagai kelompok umur bermasalah (the trouble teens). Hal inilah yang menjadi salah satu sebab mengapa masa remaja dinilai lebih rawan daripada tahap-tahap perkembangan manusia yang lain.
Selasa, 19 Maret 2013

PostHeaderIcon Pedagogi Praktis Abad 21 | Action Plans Tugas



Pada pertemuan kuliah minggu ini membahas tentang Pedagogi Praktis Abad ke-21.  Pedagogi abad ke-21 disebut juga Progressive Pedagogy, yaitu pembelajaran yang berkembang sesuai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sebagai ilmu dalam mengajar, pedagogi dikategorikan dalam 2 kategori, yaitu:
(1)  Pengetahuan pedagogis formal : upaya mengembangkan prinsp dan teori pedagogi yang efektif melalui penelitian sistematis.
(2)  Pedagogi vernakular (pedagogi praktis) : pengembangan pedagogi secara praktis

Carpenter (2001) menyebutkan ada 2 fungsi pedagogis:
I.    Menghasilkan pengetahuan baru tentang pengajaran
II. Memungkinkan tenaga pendidik untuk memahami, menjelaskan dan memodifikasi pedagogi.
Banyak penelitian yang dilakukan dalam pedagogi menjadikan semakin berkembangnya teori dan prinsip pedagogi. Sehingga seorang guru mampu memilih suatu pendekatan yang kaya dan sangat membantu dalam menjalankan profesionalismenya sebagai seorang guru yaitu men-transfer ilmu.

Kamis, 14 Maret 2013

PostHeaderIcon Hasil Diskusi Topik Paedagogis Teoritis dan Prinsip-Prinsip Paedagogis

Berdasarkan hasil diskusi kelompok yang saya lakukan dengan Haifa Chairunnisa, maka berikut saya simpulkan inti teori Paedagogis Teoritis dan Prinsip-Prinsip Paedagogis.

A.      Paedagogis Teoritis
  • Danilov (1978) mendefenisikan istilah pedagogis sebagai proses interaksi terus-menerus dan saling berasimilasi antara pengetahuan ilmiah dan pengembangan siswa
  • Alberto Garcia et al (2005): paedagogis sebagai tindakan guru dan siswa dalam konteks organisasi sekolah, dimana interaksi itu dilakukan berdasarkan teori paedagogis tertentu, berorientasi pada tujuan institusional, dan dikembangkan dalam interaksi yang dekat dengan keluarga dan masyarakat untuk mencapai pembentukan siswa secara sehat.
  • Ana Maria: proses paedagogis sebagai sebuah proses pendidikan yang menyoroti hubungan antara pendidikan, pengajaran, dan pembelajaran yang bertujuan untuk mengembangkan kepribadian siswa agar mempersiapkan dirinya untuk menjalani kehidupan.
  • Gladys Valvidia (1988): proses paedagogis erat kaitannya dengan tujuan sosial yang dikembangkan dan berhubungan satu sama lain.
Rabu, 06 Maret 2013

PostHeaderIcon Mengajar & Paradigma Belajar


Apa itu Mengajar?
Mengajar merupakan suatu kegiatan pengajaran yang dilakukan seorang profesional (guru) yang bertujuan untuk menyampaikan informasi, pengetahuan, pengalaman kepada orang lain, sehingga orang tersebur mengerti dan memahami bahan/materi yang diajarkan.

Dalam aktifitas mengajar terdapat elemen-elemen yang perlu diperhatikan:
- Tujuan bahan ajar: bahan ajar yang diberikan harus memiliki tujuan, yaitu menjadi pengetahuan bagi siswa untuk mengatasi fenomena disekitarnya
-  Interaksi guru dan siswa: Perlu adanya interaksi positif antara guru dan siswa, lewat kemampuan guru mengelola kelas, sehingga membuat siswa berperan aktif dalam proses pengajaran
- Evaluasi proses pengajaran: evaluasi bertujuan sebagai laporan berhasil atau tidaknya proses pengajaran tersebut. Evaluasi dapat berupa pemberian tugas dan ujian.

Dalam istilah pengajaran, sering kita sebut pembelajaran. Meskipun secara awam hal ini bisa dianggap sama, namun terdapat perbedaan makna dalam pengajaran dan pembelajaran. Pengajaran menunnjuk kepada tugas guru untuk mengajar siswa di dalam suatu kelas (ruangan belajar), hal ini mengarah pada aspek teacher’s centered, sedangkan pembelajaran menunjuk kepada tugas siswa untuk belajar dalam baik didalam maupun diluar kelas, hal ini mengarah pada aspek student’s centered. Pemahaman yang benar akan konsep diatas, akan membuat kita mengerti dengan baik apa yang menjadi konsep pengajaran dan kemampuan mengajar seorang guru, serta apa yang menjadi konsep pembelajaran dan kewajiban seorang peserta ajar.

Rabu, 27 Februari 2013

PostHeaderIcon How to Build Your Self-Awareness?

Menyambung postingan saya sebelumnya, self-awareness merupakan keadaan saat kita sadar akan emosi kita, dan pikiran kita mengenai emosi tersebut. Dengan keuntungan-keuntungan menjadi orang yang sadar diri, tentu kita ingin menjadi orang yang demikian. Sekarang pertanyaannya, bagaimanakah caranya?

Membangun Self Awareness
Kesadaran diri dapat dibangun dengan mengaktifkan bagian otak yang disebut neokorteks. Ini adalah bagian otak yang terkait dengan penggunaan bahasa. Artinya, untuk meningkatkan kesadaran diri, Anda perlu “membahasakan”, mengidentifikasi, dan menamai emosi yang Anda rasakan. Beberapa cara yang bisa dilakukan adalah:
1.   I Messages (Pesan “Saya.....”)
Menuliskan atau menyatakan perasaan dengan menggunakan pesan yang diawali dengan “Saya....”. Contohnya: “Saya merasa perilaku Anda sama sekali tidak menghargai kerja keras saya” atau “Saya kecewa dengan keputusan yang kamu buat”. I message menyadarkan Anda bahwa kendali dari permasalahan yang terjadi ada di tangan Anda. Anda yang merasakan sebuah emosi, Anda yang menyatakan, dan Anda yang memiliki kendali untuk mengubah keadaan.

2.  Berbagai Cara Berbagai Warna
Menggunakan berbagai metode untuk melukiskan dan mendeskripsikan perasaan:
· Warna, contoh: warna kuning untuk emosi senang, biru untuk sedih, merah untuk marah, dan lain lain. Anda bisa menggunakannya dalam berpakaian, tinta alat tulis, warna font di komputer, dan sebagainya.
·  Skala, contoh: “Saya cukup merasa bahagia, kira-kira 80 dari 100 lah”. Ini memberi gambaran yang cukup terukur kira-kira seberapa kuat intensitas emosi yang Anda alami. Jika Anda bisa mengatakan bahwa kesedihan Anda berskala 50:50, maka tidak ada alasan bagi Anda untuk berlarut-larut dalam kesedihan itu.
·  Analogi, contoh : “Kalau saya ini gunung, saya sudah mau meletus!”. Analogi ini juga bisa digunakan sebagai pengukur intensitas emosi Anda. Bagi orang Indonesia, analogi seperti ini biasanya lebih mudah dipahami karena budaya kita memang banyak mengajarkan simbolisasi dalam bahasa (contoh: bagai kacang lupa kulitnya).

PostHeaderIcon Controlling Your Emotion..



A  : “Aku tidak bisa hidup tanpa dia! Aku tidak berguna!”
B  : “Jangan begitu, masih banyak yang bisa kamu lakukan dalam hidup”
A   : “Tapi cuma dia yang bisa membuatku bahagia”
B  : “Masih ada pria-pria lain yang pasti lebih baik darinya”
A  : “Aku tidak peduli! Pokoknya hidupku sekarang sudah tak berarti lagi!”

Percakapan singkat di atas adalah penggalan adegan dari sebuah sinetron di televisi. Kisah klise tentang seorang wanita yang ditinggal pergi pasangan yang sangat dicintainya. Sepeninggal pria ini, sang wanita merasa kehilangan jati diri. Ia terlarut dalam emosi kesedihan yang mendalam hingga ia pun merasa hidupnya telah berakhir. 

Pernahkah Anda mengalami hal yang serupa? Mungkin bukan kasus putus cinta, namun kasus-kasus lain dimana Anda sulit menanggulangi emosi Anda sendiri. Salah satu kasus sederhana yang sering terjadi adalah ketika berkendara di jalan raya. Seberapa sering Anda merasa ”tersinggung” ketika ada kendaraan lain yang menyerobot jalur Anda, hingga kemudian Anda tancap gas untuk kembali menyusul kendaraan tersebut? Atau pernahkah Anda memaki-maki supir kendaraan umum yang seenaknya menghentikan kendaraan di tengah jalan untuk menaikkan penumpang? Tanpa disadari, ternyata emosi banyak sekali mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari. 

Emosi merupakan suatu reaksi mental dan psikologis yang muncul secara spontan ketika seseorang berhadapan dengan suatu kondisi. Terdapat empat jenis emosi dasar yaitu:
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Takut
Keempat emosi ini kemudian berkembang menjadi berbagai emosi seperti cemas, malu, jijik, dan sebagainya. Emosi sendiri sebenarnya tidak memiliki muatan “benar” atau ”salah” karena ini merupakan reaksi manusiawi dalam menghadapi sesuatu. Perilaku yang mengikuti emosilah yang bisa dinilai “benar” atau “ salah”.
Perlu diperhatikan bahwa tidak hanya emosi negatif seperti takut, marah, atau sedih saja yang bisa membuat kita menunjukkan perilaku yang “salah”. Emosi positif seperti bahagia juga bisa merugikan jika kita tidak paham bagaimana cara mengaturnya menjadi perilaku yang sesuai.

Wah, kalau emosi positif saja bisa merugikan, berarti kita benar-benar harus pandai mengendalikan perilaku yang menyertai emosi tertentu. Lantas, apa yang bisa kita lakukan untuk mengendalikan perilaku emosional kita? Langkah pertama adalah memiliki self-awareness.

Apa itu Self Awareness ?
Self Awareness (kesadaran diri) adalah perhatian yang berlangsung ketika seseorang mencoba memahami keadaan internal dirinya. Prosesnya berupa semacam refleksi dimana seseorang secara sadar memikirkan hal-hal yang ia alami berikut emosi-emosi mengenai pengalaman tersebut. Dengan kata lain, Self Awareness adalah keadaan ketika kita membuat diri sendiri sadar tentang emosi yang sedang kita alami dan juga pikiran-pikiran kita mengenai emosi tersebut. 

Design elements by Miss Honey