About Me
Pages
About this blog
Total Tayangan Halaman
Diberdayakan oleh Blogger.
You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "
About Me
Blog Archive
Followers
Rabu, 10 April 2013
Pedagogi, TIK & Fenomena Kontemporer
19.07 | Diposting oleh
11054mcs |
Edit Entri
1.
Pertanyaan Esensial
Terdapat
beebrapa pertanyaan esensial yang harus dijawab oleh seorang guru efektif
berkaitan dengan masalah-masalah pedagogi:
·
Penilaian
kebutuhan: materi belajar apa yg dibutuhkan?
·
Pertumbuhan
profesional: cara meningkatkan mutu pengajaran di kelas?
·
Budaya Kelas:
cara menumbuhkan budaya kelas untuk belajar?
·
Strategi:
bagaimana guru mengajar untuk memaksimalkan hasil?
· Pengelolaan
Sumber Daya Kelas: bagaimana membuat media pembelajaran dan apa kegunaannya
dalam pembelajaran?
·
Pemecahan
masalah: apa permasalahan dalam pengajaran dan cara mengatasinya?
·
Orkrestasi:
bagaimana guru mengatur semua aspek yang berbeda dari pedagogi?
·
Penggunaan TIK:
aplikasi TIK dalam pembelajaran yang memenuhi kriteris pedagogi?
2.
Pedagogi Efektif
Pedagogi
akan berjalan dengan efektif jika guru:
·
Menciptakan lingkungan
yang menunjang pembelajaran
·
Mendorong pemikiran
reflektif dan tindakan
·
Meningkatkan relevansi
pembelajaran baru
·
Memfasilitasi pembelajaran
bersama
·
Mengkoneksikan pembelajaran
dengan pengalaman sebelumnya
·
Memberikan kesempatan
pada siswa untuk belajar
·
Menyelidiki hubungan
belajar-mengajar
Menunjang Pembelajaran: Guru yang baik harus mampu menunjang pembelajaran
dengan membina hubungan positif dalam lingkungan yang peduli, inklusif,
non-diskriminatif, dan kohesif. Guru juga harus mampu membangun hubungan yang
baik dengan komunitas sekolah dan bekerja-sama dengan orang tua yang memiliki
pengetahuan tentang bagaimana memajukan pembelajaran anak mereka
3.
Pemikiran Reflektif
Pembelajar
(siswa) yang reflektif ialah siswa yang mampu mengasimilasi pembelajaran baru,
mengaitkannya dengan apa yang sudah diketahui, mengadaptasinya untuk tujuan
tertentu, menerjemahkan pikiran dalam tindakan, mampu mengembangkan
kreatifitas, mampu berpikir kritis.
a)
Pembelajaran
Baru:
Siswa
efektif: memahami apa yang dipelajari, mengapa belajar materi
tersebut, bagaimana menggunakan hasil belajar dalam kehidupan.
Guru
efektif: mampu merangsang
keingintahuan murid, meminta siswa mencari informasi dan ide yang relevan,
menantang siswa untuk menggunakan dan menerapkan materi dengan cara baru dan
konteks baru.
b) Pembelajaran
Bersama: Guru mendorong siswa untuk
terlibat dalam pembelajaran bersama dengan orang lain, hal ini akan
meningkatkan kemampuan siswa dalam membangun bahasa dan memperluas pengetahuan.
c) Koneksi Pengalaman: Siswa dikatakan belajar dengan baik ketika ia mampu
mengintegrasikan pembelajaran baru dengan pengalaman yang sudah mereka pahami.
d) Kesempatan
Belajar: Siswa dikatakan belajar
dengan efektif ketika mereka memiliki waktu dan kesempatan untuk terlibat
dengan, berlatih, dan mentransfer pembelajaran baru.
e) Sebagai
Penyelidikan: Guru harus menyelidiki
dampak pembelajaran yang diberikan terhadap siswanya.
4.
TIK dan Pedagogi
Pembelajaran
yang difasilitasi dengan TIK disebut dengan e-learning. Manfaat TIK:
·
Membuat koneksi
yang memungkinkan siswa menjelajahi lingkungan belajar yang baru, tanpa
dibatasi jarak dan waktu
·
Memfasilitasi
pembelajaran bersama lewat komunitas belajar diluar kelas
·
Menciptakan
lingkungan yang menunjang pembelajaran
·
Meningkatkan
kesempatan belajar dengan alat-alat yang menghemat waktu
5.
Kenikmatan Belajar
a)
Fenomena
Kontemporer (Peranan TIK)
Memungkinkan guru untuk memahami
konsekuensi dari interaksi pembelajaran dengan cara yang relatif sederhana.
Namun, peranan TIK bukan menjadikan
kehadiran guru dikelas tidak penting, guru tetap penting karena guru merupakan
pesintesis / reflektor, yaitu orang yang memiliki tanggung jawab untuk membuat
aktifitas kelas terlihat lebih bermakna bagi semua siswa.
b)
Sama-sama
Pembelajar
Guru dan siswa merupakan pihak yang
sama-sama ‘belajar’, sehingga:
-
Perlu ada ruang
dan kesempatan untuk mengeksplorasi
-
Siswa dapat
dipersepsi sebagai ‘partner’ belajar bagi guru
-
Guru berperan
meyakinkan bahwa semua pelajar perlu didukung
-
Cakupan materi
menjadi kurang penting dibandingkan ruang dan kesempatan yang meyakinkan untuk
mengeksplorasi
-
Kriteria penting
untuk pemilihan konten harus memfasilitasi kegunaannya dalam eksplorasi
-
Hasil bukan
menjadi hal utama, tetapi Proses Perkembangan.
Senin, 25 Maret 2013
Perilaku Delinkuen Remaja (Kenakalan Remaja)
23.09 | Diposting oleh
11054mcs |
Edit Entri
Dewasa ini kasus
kriminalitas di kalangan remaja semakin meningkat. Maraknya pemberitaan
kriminalitas dikalangan remaja pada banyak media semakin meningkatkan citra
buruk remaja di lingkungan sosialnya. Remaja di lingkungan sosial sering
dianggap sebagai kelompok yang senang membuat kekacauan dan perkelahian.
Perilaku remaja yang
mampu mencelakakan dirinya sendiri maupun orang lain disebut dengan Perilaku Delinkuen. Kasus-kasus
kriminalitas seperti penggunaan narkoba dan obat-obatan terlarang di kalangan
remaja, keterlibatan para remaja dalam tawuran dan pembantaian terhadap siswa, meningkatnya
kasus seks pranikah, kasus pengeroyokan, perampokan serta penyalahgunaan
senjata tajam, apabila ditelusuri disebabkan oleh merasa terabaikannya para
remaja oleh lingkungannya.
Perilaku non-kriminal
namun melanggar norma juga banyak dilakukan remaja sebagai bentuk protes
terhadap lingkungannya, seperti remaja yang merokok layaknya orang dewasa,
perilaku memakai pakaian yang ketat dan minim ke sekolah bagi remaja putri,
pemberontakan terhadap guru dan orangtua, dan banyak hal lainnya.
Lingkungan yang kurang
memberi perhatian dan dukungan bagi remaja membuat remaja merasa terabaikan
sehingga terdorong untuk melakukan perilaku yang menyimpang dari norma. Dengan
perilaku tersebut, remaja berusaha mendapatkan perhatian dari lingkungannya.
Masa remaja
adalah masa krisis identitas bagi kebanyakan anak remaja. Remaja sedang
mencari-cari figur panutan, namun figur itu tidak ada didekatnya. Secara umum
dan dalam kondisi normal sekalipun, masa ini merupakan periode yang sulit untuk
ditempuh, baik secara individual ataupun kelompok, sehingga remaja sering
dikatakan sebagai kelompok umur bermasalah (the trouble teens). Hal
inilah yang menjadi salah satu sebab mengapa masa remaja dinilai lebih rawan
daripada tahap-tahap perkembangan manusia yang lain.
Selasa, 19 Maret 2013
Pedagogi Praktis Abad 21 | Action Plans Tugas
23.28 | Diposting oleh
11054mcs |
Edit Entri
Pada
pertemuan kuliah minggu ini membahas tentang Pedagogi Praktis Abad ke-21. Pedagogi abad ke-21 disebut juga Progressive
Pedagogy, yaitu pembelajaran yang berkembang sesuai kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi.
Sebagai
ilmu dalam mengajar, pedagogi dikategorikan dalam 2 kategori, yaitu:
(1) Pengetahuan pedagogis formal : upaya mengembangkan prinsp dan teori pedagogi yang
efektif melalui penelitian sistematis.
(2) Pedagogi vernakular (pedagogi praktis) : pengembangan pedagogi secara praktis
Carpenter
(2001) menyebutkan ada 2 fungsi pedagogis:
I. Menghasilkan
pengetahuan baru tentang pengajaran
II.
Memungkinkan
tenaga pendidik untuk memahami, menjelaskan dan memodifikasi pedagogi.
Banyak
penelitian yang dilakukan dalam pedagogi menjadikan semakin berkembangnya teori
dan prinsip pedagogi. Sehingga seorang guru mampu memilih suatu pendekatan yang
kaya dan sangat membantu dalam menjalankan profesionalismenya sebagai seorang
guru yaitu men-transfer ilmu.
Kamis, 14 Maret 2013
Hasil Diskusi Topik Paedagogis Teoritis dan Prinsip-Prinsip Paedagogis
23.07 | Diposting oleh
11054mcs |
Edit Entri
Berdasarkan
hasil diskusi kelompok yang saya lakukan dengan Haifa Chairunnisa, maka berikut
saya simpulkan inti teori Paedagogis Teoritis dan Prinsip-Prinsip Paedagogis.
A.
Paedagogis Teoritis
- Danilov (1978) mendefenisikan istilah pedagogis sebagai proses interaksi terus-menerus dan saling berasimilasi antara pengetahuan ilmiah dan pengembangan siswa
- Alberto Garcia et al (2005): paedagogis sebagai tindakan guru dan siswa dalam konteks organisasi sekolah, dimana interaksi itu dilakukan berdasarkan teori paedagogis tertentu, berorientasi pada tujuan institusional, dan dikembangkan dalam interaksi yang dekat dengan keluarga dan masyarakat untuk mencapai pembentukan siswa secara sehat.
- Ana Maria: proses paedagogis sebagai sebuah proses pendidikan yang menyoroti hubungan antara pendidikan, pengajaran, dan pembelajaran yang bertujuan untuk mengembangkan kepribadian siswa agar mempersiapkan dirinya untuk menjalani kehidupan.
- Gladys Valvidia (1988): proses paedagogis erat kaitannya dengan tujuan sosial yang dikembangkan dan berhubungan satu sama lain.
Rabu, 06 Maret 2013
Mengajar & Paradigma Belajar
13.28 | Diposting oleh
11054mcs |
Edit Entri
Apa itu Mengajar?
Mengajar
merupakan suatu kegiatan pengajaran yang dilakukan
seorang profesional (guru) yang bertujuan untuk menyampaikan informasi,
pengetahuan, pengalaman kepada orang lain, sehingga orang tersebur mengerti dan
memahami bahan/materi yang diajarkan.
Dalam
aktifitas mengajar terdapat elemen-elemen yang perlu diperhatikan:
- Tujuan bahan ajar:
bahan ajar yang diberikan harus memiliki tujuan, yaitu menjadi pengetahuan bagi
siswa untuk mengatasi fenomena disekitarnya
-
Interaksi guru dan siswa: Perlu adanya interaksi positif antara guru dan
siswa, lewat kemampuan guru mengelola kelas, sehingga membuat siswa berperan
aktif dalam proses pengajaran
- Evaluasi proses pengajaran: evaluasi bertujuan sebagai laporan berhasil atau tidaknya
proses pengajaran tersebut. Evaluasi dapat berupa pemberian tugas dan ujian.
Dalam
istilah pengajaran, sering kita sebut pembelajaran. Meskipun secara awam hal
ini bisa dianggap sama, namun terdapat perbedaan makna dalam pengajaran dan
pembelajaran. Pengajaran menunnjuk
kepada tugas guru untuk mengajar siswa di dalam suatu kelas (ruangan belajar),
hal ini mengarah pada aspek teacher’s centered, sedangkan
pembelajaran menunjuk kepada tugas siswa untuk belajar dalam baik
didalam maupun diluar kelas, hal ini mengarah pada aspek student’s centered. Pemahaman yang benar akan konsep diatas, akan membuat
kita mengerti dengan baik apa yang menjadi konsep pengajaran dan kemampuan mengajar
seorang guru, serta apa yang menjadi konsep pembelajaran dan kewajiban seorang
peserta ajar.
Rabu, 27 Februari 2013
How to Build Your Self-Awareness?
20.40 | Diposting oleh
11054mcs |
Edit Entri
Menyambung
postingan saya sebelumnya, self-awareness
merupakan keadaan saat kita sadar akan emosi kita, dan pikiran kita
mengenai emosi tersebut. Dengan
keuntungan-keuntungan menjadi orang yang sadar diri, tentu kita ingin menjadi
orang yang demikian. Sekarang pertanyaannya, bagaimanakah caranya?
Membangun
Self Awareness
Kesadaran diri dapat dibangun dengan
mengaktifkan bagian otak yang disebut neokorteks. Ini adalah bagian otak
yang terkait dengan penggunaan bahasa. Artinya, untuk meningkatkan kesadaran
diri, Anda perlu “membahasakan”, mengidentifikasi, dan menamai emosi yang Anda
rasakan. Beberapa cara yang bisa dilakukan adalah:
1.
I Messages (Pesan
“Saya.....”)
Menuliskan atau
menyatakan perasaan dengan menggunakan pesan yang diawali dengan “Saya....”.
Contohnya: “Saya merasa perilaku Anda sama sekali tidak menghargai kerja keras
saya” atau “Saya kecewa dengan keputusan yang kamu buat”. I message
menyadarkan Anda bahwa kendali dari permasalahan yang terjadi ada di tangan
Anda. Anda yang merasakan sebuah emosi, Anda yang menyatakan, dan Anda yang
memiliki kendali untuk mengubah keadaan.
2. Berbagai
Cara Berbagai Warna
Menggunakan berbagai metode untuk
melukiskan dan mendeskripsikan perasaan:
· Warna,
contoh: warna kuning untuk emosi senang, biru untuk sedih, merah untuk marah,
dan lain lain. Anda bisa menggunakannya dalam berpakaian, tinta alat tulis,
warna font di komputer, dan sebagainya.
· Skala,
contoh: “Saya cukup merasa bahagia, kira-kira 80 dari 100 lah”. Ini memberi
gambaran yang cukup terukur kira-kira seberapa kuat intensitas emosi yang Anda
alami. Jika Anda bisa mengatakan bahwa kesedihan Anda berskala 50:50, maka
tidak ada alasan bagi Anda untuk berlarut-larut dalam kesedihan itu.
· Analogi,
contoh : “Kalau saya ini gunung, saya sudah mau meletus!”. Analogi ini juga
bisa digunakan sebagai pengukur intensitas emosi Anda. Bagi orang Indonesia,
analogi seperti ini biasanya lebih mudah dipahami karena budaya kita memang
banyak mengajarkan simbolisasi dalam bahasa (contoh: bagai kacang lupa
kulitnya).
Controlling Your Emotion..
20.27 | Diposting oleh
11054mcs |
Edit Entri
A : “Aku tidak
bisa hidup tanpa dia! Aku tidak berguna!”
B : “Jangan
begitu, masih banyak yang bisa kamu lakukan dalam hidup”
A : “Tapi cuma dia yang bisa
membuatku bahagia”
B : “Masih ada
pria-pria lain yang pasti lebih baik darinya”
A : “Aku tidak
peduli! Pokoknya hidupku sekarang sudah tak berarti lagi!”
Percakapan singkat di atas adalah
penggalan adegan dari sebuah sinetron di televisi. Kisah klise tentang seorang
wanita yang ditinggal pergi pasangan yang sangat dicintainya. Sepeninggal pria ini, sang wanita merasa
kehilangan jati diri. Ia terlarut dalam emosi kesedihan yang mendalam hingga ia
pun merasa hidupnya telah berakhir.
Pernahkah Anda mengalami hal yang
serupa? Mungkin bukan kasus putus cinta, namun kasus-kasus lain dimana Anda
sulit menanggulangi emosi Anda sendiri. Salah satu kasus sederhana yang sering
terjadi adalah ketika berkendara di jalan raya. Seberapa sering Anda merasa
”tersinggung” ketika ada kendaraan lain yang menyerobot jalur Anda, hingga
kemudian Anda tancap gas untuk kembali menyusul kendaraan tersebut? Atau
pernahkah Anda memaki-maki supir kendaraan umum yang seenaknya menghentikan
kendaraan di tengah jalan untuk menaikkan penumpang? Tanpa disadari, ternyata
emosi banyak sekali mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari.
Emosi
merupakan suatu reaksi mental dan psikologis yang muncul secara spontan ketika
seseorang berhadapan dengan suatu kondisi. Terdapat empat jenis emosi dasar
yaitu:
- Senang
- Sedih
- Marah
- Takut
Keempat emosi ini kemudian berkembang
menjadi berbagai emosi seperti cemas, malu, jijik, dan sebagainya. Emosi sendiri
sebenarnya tidak memiliki muatan “benar” atau ”salah” karena ini
merupakan reaksi manusiawi dalam menghadapi sesuatu. Perilaku yang mengikuti
emosilah yang bisa dinilai “benar” atau “ salah”.
Perlu diperhatikan bahwa tidak hanya emosi
negatif seperti takut, marah, atau sedih saja yang bisa membuat kita
menunjukkan perilaku yang “salah”. Emosi positif seperti bahagia juga
bisa merugikan jika kita tidak paham
bagaimana cara mengaturnya menjadi perilaku yang sesuai.
Wah, kalau emosi positif saja bisa
merugikan, berarti kita benar-benar harus pandai mengendalikan perilaku yang
menyertai emosi tertentu. Lantas, apa yang bisa kita lakukan untuk
mengendalikan perilaku emosional kita? Langkah pertama adalah memiliki self-awareness.
Apa itu Self
Awareness ?
Self Awareness
(kesadaran diri) adalah perhatian yang berlangsung ketika seseorang mencoba
memahami keadaan internal dirinya. Prosesnya berupa semacam refleksi dimana
seseorang secara sadar memikirkan hal-hal yang ia alami berikut emosi-emosi
mengenai pengalaman tersebut. Dengan kata lain, Self Awareness adalah
keadaan ketika kita membuat diri sendiri sadar tentang emosi yang sedang kita
alami dan juga pikiran-pikiran kita mengenai emosi tersebut.
Langganan:
Postingan (Atom)




