About Me
Pages
About this blog
Total Tayangan Halaman
Diberdayakan oleh Blogger.
You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "
About Me
Blog Archive
Followers
Minggu, 03 Juni 2012
Mengenal Tokoh Psikologi II
23.25 | Diposting oleh
11054mcs |
Edit Entri
7. Carl Jung (1875 – 1961)
Carl Gustav Jung dilahirkan pada tanggal 26 Juli 1875 di Kesswyl
(Switzerland) dan wafat pada tanggal 6 Juni 1961 di Kusnacht (Switzerland).
Dimasa kanak-kanak Jung sudah sangat terkesan dengan mimpi, visi supernatural,
dan fantasi. Ia menyakini bahwa dirinya memiliki informasi rahasia tentang masa
depan dan berfantasi bahwa dirinya merupakan dua orang yang berbeda.
Jung lulus dari fakultas kedokteran di University of Basel dengan
spesialisasi di bidang psikiatri pada tahun 1900. Pada tahun yang sama ia
bekerja sebagai assistant di rumah sakit jiwa Zurich yang membuatnya
tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang kehidupan para pasien schizophrenic
yang akhirnya membawa Jung melakukan kontak dengan Freud. Setelah membaca
tulisan Freud yang berjudul Interpretation of Dreams, Jung mulai
melakukan korespondensi dengan Freud. Akhirnya mereka bertemu di rumah Freud di
Vienna tahun 1907. Dalam pertemuan tersebut Freud begitu terkesan dengan
kemampuan intelektual Jung dan percaya bahwa Jung dapat menjadi juru bicara
bagi kepentingan psikoanalisa karena ia bukan orang Yahudi. Jung juga dianggap
sebagai orang yang patut menjadi penerus Freud dan berkat dukungan Freud Jung
kemudian terpilih sebagai presiden pertama International Psychoanalytic
Association pada tahun 1910. Namun pada tahun 1913, hubungan Jung dan Freud
menjadi retak. Tahun berikutnya, Jung mengundurkan diri sebagai presiden dan
bahkan keluar dari keanggotaan assosiasi tersebut. Sejak saat itu Jung dan
Freud tidak pernah saling bertemu.
8. John Watson (1878 – 1958)
John Broades Watson dilahirkan di Greenville pada tanggal 9 Januari 1878
dan wafat di New York City pada tanggal 25 September 1958. Ia mempelajari ilmu
filsafat di University of Chicago dan memperoleh gelar Ph.D pada tahun 1903
dengan disertasi berjudul "Animal Education". Watson dikenal
sebagai ilmuwan yang banyak melakukan penyelidikan tentang psikologi binatang.
Pada tahun 1908 ia menjadi profesor dalam psikologi eksperimenal dan
psikologi komparatif di John Hopkins University di Baltimore dan sekaligus
menjadi direktur laboratorium psikologi di universitas tersebut. Antara tahun
1920-1945 ia meninggalkan universitas dan bekerja dalam bidang psikologi
konsumen.
John Watson dikenal sebagai pendiri aliran behaviorisme di Amerika Serikat.
Karyanya yang paling dikenal adalah "Psychology as the Behaviourist
view it" (1913). Menurut Watson dalam beberapa karyanya, psikologi
haruslah menjadi ilmu yang obyektif, oleh karena itu ia tidak mengakui adanya
kesadaran yang hanya diteliti melalui metode introspeksi. Watson juga
berpendapat bahwa psikologi harus dipelajari seperti orang mempelajari ilmu
pasti atau ilmu alam. Oleh karena itu, psikologi harus dibatasi dengan ketat
pada penyelidikan-penyelidikan tentang tingkahlaku yang nyata saja. Meskipun
banyak kritik terhadap pendapat Watson, namun harus diakui bahwa peran Watson
tetap dianggap penting, karena melalui dia berkembang metode-metode obyektif
dalam psikologi.
Peran Watson dalam bidang pendidikan juga cukup penting. Ia menekankan
pentingnya pendidikan dalam perkembangan tingkahlaku. Ia percaya bahwa dengan
memberikan kondisioning tertentu dalam proses pendidikan, maka akan dapat
membuat seorang anak mempunyai sifat-sifat tertentu. Ia bahkan memberikan
ucapan yang sangat ekstrim untuk mendukung pendapatnya tersebut, dengan
mengatakan: "Berikan kepada saya sepuluh orang anak, maka saya akan
jadikan ke sepuluh anak itu sesuai dengan kehendak saya".
9. Max Wertheimer (1880 – 1943)
Max Wertheimer dilahirkan di Praha pada tanggal 15 April 1880 dan wafat
pada tanggal 12 Oktober 1943 di New York. Max Wertheimer dianggap sebagai
pendiri psikologi Gestalt bersama-sama dengan Wolfgang Kohler dan Kurt
Koffka. Max mempelajari imu hukum selama beberapa tahun sebelum akhirnya dia
mendapatkan gelar Ph.D. di bidang psikologi. Dia kemudian diangkat menjadi
professor dan sempat bekerja di beberapa universitas di Jerman sebelum hijrah
ke Amerika Serikat karena terjadi perang di benua Eropa pada tahun 1934. Di
Amerika ia bekerja di New School for Research di New York city sampai akhir
hayatnya.
Pada tahun 1910, ketika berusia 30 tahun, Max memperlihatkan
ketertarikannya untuk meneliti tentang persepsi setelah ia melihat sebuah alat
yang disebut "stroboscope" (benda berbentuk kotak yang diberi
alat untuk melihat ke dalamkotak tersebut) di toko mainan anak-anak. Setelah
melakukan beberapa penelitian dengan alat tersebut, dia mengembangkan teori
tentang persepsi yang sering disebut dengan teori Gestalt.
Dalam bukunya yang berjudul "Investigation of Gestalt Theory"
(1923), Wertheimer mengemukakan hukum-hukum Gestalt sebagai berikut:
· Hukum Kedekatan (law of proximity): hal-hal yang saling berdekatan
dalam waktu atau tempat cenderung dianggap sebagai suatu totalitas.
· Hukum Ketertutupan (law of closure): Hal-hal yang cenderung menutup akan
membentuk kesan totalitas tersendiri.
· Hukum Kesamaan (law of equivalence): hal-hal yang mirip satu sama lain,
cenderung kita persepsikan sebagai suatu kelompok atau suatu totalitas.
10. Henry A. Murray (1893 – 1988)
Henry Alexander Murray dilahirkan di New York pada tanggal 13 Mei 1893 dan
meninggal pada tahun 1988. Sama seperti pandangan psikoanalisa, Henry Murray
juga berpendapat bahwa kepribadian akan dapat lebih mudah dipahami dengan cara
menyelidiki alam ketidaksadaran seseorang (unconscious mind). Murray
menjadi professor psikologi di Harvard University dan mengajar disana lebih
dari 30 tahun.
Peranan Murray di bidang psikologi adalah dalam bidang diagnosa kepribadian
dan teori kepribadian. Hasil karya terbesarnya yang sangat terkenal adalah
teknik evaluasi kepribadian dengan metode proyeksi yang disebut dengan "Thematic
Apperception Test (TAT)". Test TAT ini terdiri dari beberapa buah
gambar yang setiap gambar mencerminkan suatu situasi dengan suasana tertentu. Gambar-gambar
ini satu per satu ditunjukkan kepada orang yang diperiksa dan orang itu diminta
untuk menyampaikan pendapatnya atau kesannya terhadap gambar tersebut. Secara
teoritis dikatakan bahwa orang yang melihat gambar-gambar dalam test itu akan
memproyeksikan isi kepribadiannya dalam cerita-ceritanya.
11. Jean Piaget (1896 – 1980)
Jean Piaget dilahirkan di Neuchatel (Switzerland) pada tahun 1896 dan
meninggal di Geneva dalam usia 84 tahun pada tahun 1981. Pada usia 10 tahun ia
sudah memulai karirnya sebagai peneliti dan penulis. Piaget sangat tertarik
pada ilmu biology dan ia menulis paper tentang albino sparrow (burung
gereja albino) yang semakin membuatnya tertarik untuk mendalami ilmu alam.
Piaget memperoleh gelar Ph.D pada tahun 1918 di universitas Neuchatel dalam
bidang ilmu hewan. Pada tahun 1925 ia mulai menunjukkan minatnya pada bidang
filsafat dan pada tahun 1929 ia diangkat menjadi profesor dalam "Scientific
Thought" di Jeneva. Ia mulai terjun dalam dunia psikologi pada tahun
1940 dengan menjadi direktur laboratorium psikologi di Universitas Jeneva. Lalu
kemudian ia juga terpilih sebagai ketua dari "Swiss Society for
Psychologie".
Piaget adalah seorang tokoh yang amat penting dalam bidang psikologi
perkembangan. Teori-teorinya dalam psikologi perkembangan yang mengutamakan
unsur kesadaran (kognitif) masih dianut oleh banyak orang sampai hari ini.
Teori-teori, metode-metode dan bidang-bidang penelitian yang dilakukan Piaget
dianggap sangat orisinil, tidak sekedar melanjutkan hal-hal yang sudah terlebih
dahulu ditemukan orang lain.
Selama masa jabatannya sebagai profesor di bidang psikologi anak, Piaget
banyak melakukan penelitian tentang Genetic Epistemology (ilmu
pengetahuan tentang genetik). Ketertarikan Piaget untuk menyelidiki peran
genetik dan perkembangan anak, akhirnya menghasilkan suatu mahakarya yang
dikenal dengan nama Theory of Cognitive Development (Teori
Perkembangan Kognitif).
Dalam teori perkembangan kognitif, Piaget mengemukakan tahap-tahap yang
harus dilalui seorang anak dalam mencapai tingkatan perkembangan proses
berpikir formal. Teori ini tidak hanya diterima secara luas dalam bidang
psikologi tetapi juga sangat besar pengaruhnya di bidang pendidikan.
12. Carl Rogers (1902 – 1987)
Carl Ransom Rogers dilahirkan di Oak Park, Illinois, pada tahun 1902 dan
wafat di LaJolla, California, pada tahun 1987. Semasa mudanya, Rogers tidak
memiliki banyak teman sehingga ia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk
membaca. Dia membaca buku apa saja yang ditemuinya termasuk kamus dan
ensiklopedi, meskipun ia sebenarnya sangat menyukai buku-buku petualangan. Ia
pernah belajar di bidang agrikultural dan sejarah di University of Wisconsin.
Pada tahun 1928 ia memperoleh gelar Master di bidang psikologi dari Columbia
University dan kemudian memperoleh gelar Ph.D di dibidang psikologi klinis pada
tahun 1931.
Pada tahun 1931, Rogers bekerja di Child Study Department of the Society
for the prevention of Cruelty to Children (bagian studi tentang anak pada
perhimpunan pencegahan kekerasan tehadap anak) di Rochester, NY. Pada masa-masa
berikutnya ia sibuk membantu anak-anak bermasalah/nakal dengan menggunakan
metode-metode psikologi. Pada tahun 1939, ia menerbitkan satu tulisan berjudul
"The Clinical Treatment of the Problem Child", yang membuatnya
mendapatkan tawaran sebagai profesor pada fakultas psikologi di Ohio State
University. Dan pada tahun 1942, Rogers menjabat sebagai ketua dari American
Psychological Society.
Carl Rogers adalah seorang psikolog humanistik yang menekankan perlunya
sikap saling menghargai dan tanpa prasangka (antara klien dan terapist) dalam
membantu individu mengatasi masalah-masalah kehidupannya. Rogers menyakini
bahwa klien sebenarnya memiliki jawaban atas permasalahan yang dihadapinya dan
tugas terapist hanya membimbing klien menemukan jawaban yang benar. Menurut
Rogers, teknik-teknik assessment dan pendapat para terapist bukanlah hal yang
penting dalam melakukan treatment kepada klien.
Hasil karya Rogers yang paling terkenal dan masih menjadi literatur sampai
hari ini adalah metode konseling yang disebut Client-Centered Therapy. Dua buah
bukunya yang juga sangat terkenal adalah Client-Centered Therapy(1951) dan On
Becoming a Person (1961).
Mengenal Tokoh Psikologi I
23.14 | Diposting oleh
11054mcs |
Edit Entri
Belajar ilmu psikologi tidak lengkap rasanya jika kita tidak mengetahui sejarah singkat beberapa tokoh psikologi. Cekidot!!!!
1. Wilhelm Wundt (1832 – 1920)
Wilhelm Wundt dilahirkan di Neckarau pada tanggal 18 Agustus 1832 dan wafat
di Leipzig pada tanggal 31 Agustus 1920. Wilhelm Wundt seringkali dianggap
sebagai bapak psikologi modern berkat jasanya mendirikan laboratorium psikologi
pertama kali di Leipzig. Ia mula-mula dikenal sebagai seorang sosiolog, dokter,
filsuf dan ahli hukum. Gelar kesarjanaan yang dimilikinya adalah dari bidang
hukum dan kedokteran. Ia dikenal sebagai seorang ilmuwan yang banyak melakukan
penelitian, termasuk penelitian tentang proses sensory (suatu proses yang
dikelola oleh panca indera).
Pada tahun 1875 ia pindah ke Leipzig, Jerman, dan pada tahun 1879 ia dan
murid-muridnya mendirikan laboratorium psikologi untuk pertama kalinya di kota
tersebut. Berdirinya laboratorium psikologi inilah yang dianggap sebagai titik
tolak berdirinya psikologi sebagai ilmu pengetahuan yang terpisah dari
ilmu-ilmu induknya (Ilmu Filsafat & Ilmu Faal). Sebelum tahun 1879 memang
orang sudah mengenal psikologi, tetapi belum ada orang yang menyebut dirinya
sarjana psikologi. Sarjana-sarjana yang mempelajari psikologi umumnya adalah
para filsuf, ahli ilmu faal atau dokter. Wundt sendiri asalnya adalah seorang
dokter, tetapi dengan berdirinya laboratorium psikologinya, ia tidak lagi
disebut sebagai dokter atau ahli ilmu faal, karena ia mengadakan
eksperimen-eksperimen dalam bidang psikologi di laboratoriumnya.
Wundt mengabdikan diri selama 46 tahun sisa hidupnya untuk melatih para
psikolog dan menulis lebih dari 54.000 halaman laporan penelitian dan teori.
Buku-buku yang pernah ditulisnya antara lain: "Beitrage Zur Theorie Der
Sines Wahrnemung" (Persepsi yang dipengaruhi kesadaran, 1862), "Grund
zuge der Physiologischen Psychologie" (Dasar fisiologis dari
gejala-gejala psikologi, 1873) dan "Physiologische Psychologie".
2. Ivan Pavlov (1849 – 1936)
Ivan Petrovich Pavlov dilahirkan di Rjasan pada tanggal 18 September 1849
dan wafat di Leningrad pada tanggal 27 Pebruari 1936. Ia sebenarnya bukanlah
sarjana psikologi dan tidak mau disebut sebagai ahli psikologi, karena ia
adalah seorang sarjana ilmu faal yang fanatik. Eksperimen Pavlov yang sangat
terkenal di bidang psikologi dimulai ketika ia melakukan studi tentang
pencernaan. Dalam penelitian tersebut ia melihat bahwa subyek penelitiannya
(seekor anjing) akan mengeluarkan air liur sebagai respons atas munculnya
makanan. Ia kemudian mengeksplorasi fenomena ini dan kemudian mengembangkan
satu studi perilaku (behavioral study) yang dikondisikan, yang dikenal
dengan teori Classical Conditioning. Menurut teori ini, ketika
makanan (makanan disebut sebagai the unconditioned or unlearned stimulus
– stimulus yang tidak dikondisikan atau tidak dipelajari) dipasangkan atau
diikutsertakan dengan bunyi bel (bunyi bel disebut sebagai the conditioned
or learned stimulus – stimulus yang dikondisikan atau dipelajari), maka
bunyi bel akan menghasilkan respons yang sama, yaitu keluarnya air liur dari si
anjing percobaan. Hasil karyanya ini bahkan menghantarkannya menjadi pemenang
hadiah Nobel. Selain itu teori ini merupakan dasar bagi perkembangan aliran
psikologi behaviourisme, sekaligus meletakkan dasar-dasar bagi
penelitian mengenai proses belajar dan pengembangan teori-teori tentang
belajar.
3. Sigmund Freud (1856 – 1939)
Sigmund Freud dilahirkan pada tanggal 6 Mei 1856 di Freiberg (Austria),
pada masa bangkitnya Hitler, dan wafat di London pada tanggal 23 September
1939. Ia adalah seorang Jerman keturunan Yahudi. Pada usia 4 tahun ia dan
keluarga pindah ke Viena, dimana ia menghabiskan sebagian besar masa hidupnya.
Meskipun keluarganya adalah Yahudi namun Freud menganggap bahwa dirinya adalah
atheist.
Semasa muda ia merupakan anak favorit ibunya. Dia adalah satu-satunya anak
(dari tujuh bersaudara) yang memiliki lampu baca (sementara yang lain hanya
menggunakan lilin sebagai penerang) untuk membaca pada malam hari dan
satu-satunya anak yang diberi sebuah kamar dan perabotan cukup memadai untuk
menunjang keberhasilan sekolahnya. Freud dikenal sebagai seorang pelajar yang
jenius, menguasai 8 (delapan) bahasa dan menyelesaikan sekolah kedokteran pada
usia 30 tahun. Setelah lulus ia memutuskan untuk membuka praktek di bidang
neurologi.
Pada tahun 1900, Freud menerbitkan sebuah buku yang menjadi tonggak
lahirnya aliran psikologi psikoanalisa. Buku tersebut berjudul Interpretation
of Dreams yang masih dikenal sampai hari ini. Dalam buku ini Freud
memperkenalkan konsep yang disebut "unconscious mind" (alam
ketidaksadaran). Selama periode 1901-1905 dia menerbitkan beberapa buku, tiga
diantaranya adalah The Psychopathology of Everyday Life (1901), Three Essays
on Sexuality (1905), dan Jokes and Their relation to the Unconscious
(1905).
Pada tahun 1902 dia diangkat sebagai profesor di University of Viena dan
saat ini namanya mulai mendunia. Pada tahun 1905 ia mengejutkan dunia dengan
teori perkembangan psikoseksual (Theory of Psychosexual Development)
yang mengatakan bahwa seksualitas adalah faktor pendorong terkuat untuk
melakukan sesuatu dan bahwa pada masa balita pun anak-anak mengalami
ketertarikan dan kebutuhan seksual. Beberapa komponen teori Freud yang sangat
terkenal adalah:
· The Oedipal Complex, dimana anak menjadi tertarik pada ibunya dan
mencoba mengidentifikasi diri seperti sang ayahnya demi mendapatkan perhatian dari
ibu
· Konsep Id, Ego, dan Superego
· Mekanisme pertahanan diri (ego defense mechanisms)
Istilah psikoanalisa yang dikemukakan Freud sebenarnya memiliki beberapa
makna yaitu: (1) sebagai sebuah teori kepribadian dan psikopatologi, (2) sebuah
metode terapi untuk gangguan-gangguan kepribadian, dan (3) suatu teknik untuk
menginvestigasi pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan individu yang tidak
disadari oleh individu itu sendiri.
Sejak the Psychoanalytic Society (Perhimpunan Masyarakat
Psikoanalisa) didirikan pada tahun 1906, maka muncul beberapa ahli psikologi
yang dua diantaranya adalah Alfred Adler dan Carl Jung. Pada tahun 1909 Freud
mulai dikenal di seluruh dunia ketika ia melakukan perjalanan ke USA untuk
menyelenggarkan Konferensi International pertama kalinya.
Freud dikenal sebagai seorang perokok berat yang akhirnya menyebabkan dia
terkena kanker pada tahun 1923 dan memaksanya untuk melakukan lebih dari 30
kali operasi selama kurang lebih 16 tahun. Pada tahun 1933, partai Nazy di
Jerman melakukan pembakaran terhadap buku-buku yang ditulis oleh Freud. Dan
ketika Jerman menginvasi Austria tahun 1938, Freud terpaksa melarikan diri ke
Inggris dan akhirnya meninggal di sana setahun kemudian.
4. Alfred Binet (1857 – 1911)
Alfred Binet dikenal sebagai seorang psikolog dan juga pengacara (ahli hukum). Hasil karya terbesar dari Alfred Binet di bidang psikologi adalah apa yang sekarang ini dikenal dengan Intelligence Quotient atau IQ. Sebagai anggota komisi investigasi masalah-masalah pendidikan di Perancis, Alfred Binet mengembangkan sebuah test untuk mengukur usia mental (the mental age atau MA) anak-anak yang akan masuk sekolah. Usia mental tersebut merujuk pada kemampuan mental anak pada saat ditest dibandingkan pada anak-anak lain di usia yang berbeda. Dengan kata lain, jika seorang anak dapat menyelesaikan suatu test atau memberikan respons secara tepat terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diperuntukan bagi anak berusia 8 (delapan) maka ia dikatakan telah memiliki usia mental 8 (delapan) tahun.
Alfred Binet dikenal sebagai seorang psikolog dan juga pengacara (ahli hukum). Hasil karya terbesar dari Alfred Binet di bidang psikologi adalah apa yang sekarang ini dikenal dengan Intelligence Quotient atau IQ. Sebagai anggota komisi investigasi masalah-masalah pendidikan di Perancis, Alfred Binet mengembangkan sebuah test untuk mengukur usia mental (the mental age atau MA) anak-anak yang akan masuk sekolah. Usia mental tersebut merujuk pada kemampuan mental anak pada saat ditest dibandingkan pada anak-anak lain di usia yang berbeda. Dengan kata lain, jika seorang anak dapat menyelesaikan suatu test atau memberikan respons secara tepat terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diperuntukan bagi anak berusia 8 (delapan) maka ia dikatakan telah memiliki usia mental 8 (delapan) tahun.
Test yang dikembangkan oleh Binet merupakan test intelegensi yang pertama,
meskipun kemudian konsep usia mental mengalami revisi sebanyak dua kali sebelum
dijadikan dasar dalam test IQ. Pada tahun 1914, tiga tahun setelah Binet wafat,
seorang psikolog Jerman, William Stern, mengusulkan bahwa dengan membagi usia
mental anak dengan usia kronological (Chronological Age atau CA), maka
akan lebih memudahkan untuk memahami apa yang dimaksud "Intelligence
Quotient". Rumus ini kemudian direvisi oleh Lewis Terman, dari Stanford
University, yang mengembangkan test untuk orang-orang Amerika. Lewis mengalikan
formula yang dikembangkan Stern dengan angka 100. Perhitungan statistik inilah
yang kemudian menjadi definisi atau rumus untuk menentukan Intelligensi
seseorang: IQ=MA/CA*100. Test IQ inilah yang dikemudian hari dinamai Stanford-Binet
Intelligence Test yang masih sangat populer sampai dengan hari ini.
5. Emil Kraepelin (1856 – 1926)
Emil Kraepelin dilahirkan pada tanggal 15 Pebruari
1856 di Neustrelitz dan wafat pada tanggal 7 Oktober 1926 di Munich. Ia menajdi
dokter di Wurzburg tahun 1878, lalu menjadi dokter di rumah sakit jiwa Munich.
Pada tahun 1882 ia pindah ke Leipzig untuk bekerja dengan Wundt yang pernah
menjadi kawannya semasa mahasiswa. Dari tahun 1903 sampai meninggalnya, ia
menjadi profesor psikiatri di klinik psikiatri di Munich dan sekaligus menjadi
direktur klinik tersebut. Emil Kraepelin adalah psikiatris yang mempelajari
gambaran dan klasifikasi penyakit-penyakit kejiwaan, yang akhirnya menjadi
dasar penggolongan penyakit-penyakit kejiwaan yang disebut sebagai Diagnostic
and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM), diterbitkan oleh American
Psychiatric Association (APA). Emil Kraepelin percaya bahwa jika klasifikasi
gejala-gejala penyakit kejiwaan dapat diidentifikasi maka asal usul dan
penyebab penyakit kejiwaan tersebut akan lebih mudah diteliti. Kraepelin
menjadi terkenal terutama karena penggolongannya mengenai penyakit kejiwaan
yang disebut psikosis. Ia membagi psikosis dalam dua golongan utama yaitu
dimentia praecox dan psikosis manic-depresif. Dimentia praecox merupakan gejala
awal dari penyakit kejiwaan yang disebut schizophrenia. Kraepelin juga dikenal
sebagai tokoh yang pertama kali menggunakan metode psikologi pada pemeriksaan
psikiatri, antara lain menggunakan test psikologi untuk mengetahui adanya
kelainan-kelainan kejiwaan. Salah satu test yang diciptakannya di kenal dengan
nama test Kraepelin. Test tersebut banyak digunakan oleh para sarjana psikologi
di Indonesia pada era tahun 1980an.
6. Alfred Adler (1870 – 1937)
Alfred Adler dilahirkan pada tanggal 7 Pebruari 1870 di Viena (Austria) dan wafat pada tanggal 28 Mei 1937 di Aberdeen (Skotlandia). Ia adalah seorang Yahudi yang lahir dari keluarga yang termasuk dalam status sosial ekonomi kelas menengah pada saat itu. Semasa muda Adler mengalami masa-masa yang sangat sulit. Ketika ia berusia 5 tahun ia terkena penyakit pneumonia (radang paru-paru) yang menurut dokter hampir mustahil untuk disembuhkan. Ketika mendengar kabar tersebut, Adler berjanji jika ia bisa sembuh maka ia akan menjadi dokter dan bertekad untuk memerangi penyakit yang mematikan tersebut. Akhirnya pada tahun 1895, setelah dinyatakan sembuh dari penyakitnya, ia benar-benar mewujudkan tekadnya dan berhasil meraih gelar sarjana kedokteran dari University of Vienna. Ia akhirnya dikenal sebagai seorang ahli penyakit dalam. Tahun 1898, ia menulis buku pertamanya yang memfokuskan pada pendekatan kemanusiaan dan penyakit dari sudut pandang individu sebagai pribadi bukan membagi-baginya menjadi gejala, insting, atau dorongan-dorongan. Pada tahun 1902, ia mendapat tawaran kerjasama dari Freud untuk bergabung dalam kelompok diskusi untuk membahas masalah psikopatologi. Adler akhirnya ikut bergabung dan kemudian menjadi pengikut setia Freud, namun hubungan tersebut tidak berlangsung lama. Pada tahun 1907, Adler menulis sebuah paper berjudul "Organ Inferiority" yang menjadi pemicu rusaknya hubungan Freud dengan Adler. Dalam tulisan tersebut Adler mengatakan bahwa setiap manusia pada dasarnya mempunyai kelemahan organis. Berbeda dengan hewan, manusia tidak dilengkapi dengan alat-alat tubuh untuk melawan alam. Kelemahan-kelemahan organis inilah yang justru membuat manusia lebih unggul dari makhluk-makhluk lainnya, karena mendorong manusia untuk melakukan kompensasi (menutupi kelemahan). Adler juga tidak sependapat dengan teori psikoseksual Freud. Pada tahun 1911, Adler meninggalkan kelompok diskusi, bersama dengan delapan orang koleganya, dan mendirikan sekolah sendiri. Sejak itu ia tidak pernah bertemu lagi dengan Freud.
Alfred Adler dilahirkan pada tanggal 7 Pebruari 1870 di Viena (Austria) dan wafat pada tanggal 28 Mei 1937 di Aberdeen (Skotlandia). Ia adalah seorang Yahudi yang lahir dari keluarga yang termasuk dalam status sosial ekonomi kelas menengah pada saat itu. Semasa muda Adler mengalami masa-masa yang sangat sulit. Ketika ia berusia 5 tahun ia terkena penyakit pneumonia (radang paru-paru) yang menurut dokter hampir mustahil untuk disembuhkan. Ketika mendengar kabar tersebut, Adler berjanji jika ia bisa sembuh maka ia akan menjadi dokter dan bertekad untuk memerangi penyakit yang mematikan tersebut. Akhirnya pada tahun 1895, setelah dinyatakan sembuh dari penyakitnya, ia benar-benar mewujudkan tekadnya dan berhasil meraih gelar sarjana kedokteran dari University of Vienna. Ia akhirnya dikenal sebagai seorang ahli penyakit dalam. Tahun 1898, ia menulis buku pertamanya yang memfokuskan pada pendekatan kemanusiaan dan penyakit dari sudut pandang individu sebagai pribadi bukan membagi-baginya menjadi gejala, insting, atau dorongan-dorongan. Pada tahun 1902, ia mendapat tawaran kerjasama dari Freud untuk bergabung dalam kelompok diskusi untuk membahas masalah psikopatologi. Adler akhirnya ikut bergabung dan kemudian menjadi pengikut setia Freud, namun hubungan tersebut tidak berlangsung lama. Pada tahun 1907, Adler menulis sebuah paper berjudul "Organ Inferiority" yang menjadi pemicu rusaknya hubungan Freud dengan Adler. Dalam tulisan tersebut Adler mengatakan bahwa setiap manusia pada dasarnya mempunyai kelemahan organis. Berbeda dengan hewan, manusia tidak dilengkapi dengan alat-alat tubuh untuk melawan alam. Kelemahan-kelemahan organis inilah yang justru membuat manusia lebih unggul dari makhluk-makhluk lainnya, karena mendorong manusia untuk melakukan kompensasi (menutupi kelemahan). Adler juga tidak sependapat dengan teori psikoseksual Freud. Pada tahun 1911, Adler meninggalkan kelompok diskusi, bersama dengan delapan orang koleganya, dan mendirikan sekolah sendiri. Sejak itu ia tidak pernah bertemu lagi dengan Freud.
Rabu, 30 Mei 2012
Psikologi pada masa Yunani Kuno
23.34 | Diposting oleh
11054mcs |
Edit Entri
Sejarah aliran psikologi yang telah
mulai terstruktur keilmiahannya memanglah dimulai dari zaman Yunani kuno ini.
Pada masa ini, telah mulai adanya pemikiran yang mendalam mengenai sebab atau
asal muasal segala sesuatu. Berbeda dengan zaman sebelumnya yang mempercayai
bahwa causa prima adalah faktor X. Seperti halnya penyakit, musibah,
benda-benda yang ada semuanya berasal dari kekuatan yang berada di luar
kekuatan manusia (tuhan, dewa, atau kekuatan terbesar). Zaman-zaman ini terjadi
pada komunitas Mesir, Mesopotamia, dan Babilonia. Setelah itu, pada zaman Yunani kuno
yang mempunyai pemikiran mengenai teori asal muasal sesuatu. Dalam pemikiran
ini ada 5 pendekatan, yaitu naturalistik, biologis, matematis, ekletik, dan
humanitik.
1. Pendekatan naturalistik, yaitu pendekatan yang memandang penyebab utama dari kehidupan berasal dari
lingkungan fisik (eksternal manusia). Thales (640-546SM) menyatakan bahwa
segala sesuatu berasal dari air. Bahkan pandangan ini diteruskan hingga ke
prespektif modern bahwa bumi ini terdiri dari 2/3nya adalah air. Sedangkan
Anaximander (610-546SM) menyatakan bahwa segala sesuatu terbuat dari substansi
asali yang tak terbatas, abadi, melingkupi seluruh dunia serta dapat
ditransformasikan ke dalam bentuk jadinya. Anaximenes (600SM) menyatakan bahwa
substansi mendasar adalah udara (pneuma). Democritus (460-362SM) menyatakan
bahwa segala sesuatu berasal dari atom tetap. Heraclitus (530SM) memberikan
penegasan bahwa segala sesuatu terbuat dari api sebagaimana bumi terbuat dari
api yang tak kunjung padam (magma bumi). Parmenides (600SM) menyatakan bahwa
segala sesuatu terbuat dari substansi tunggal yang tak terbatas, tak terbagi
dan tidak berlawanan.
2. Pendekatan
biologis, yaitu memandang kondisi internal
fisiologis manusia sebagai penentu kehidupan individu. Tokoh-tokohnya antara
lain; Alemaeon (500SM) yang menyatakan bahwa aktivitas manusia ditentukan oleh
keseimbangan mekanisme tubuh (otak & indera). Sedangkan Hippocrates
menyatakan bahwa aktivitas manusia berdasarkan pada mekanisme otak dalam proses
fisiologis. Teori yang dihasilkannya ialah teori humors, yaitu aktivitas
manusia dipengaruhi oleh darah, empedu kuning, empedu hitam dan getah bening.
Lain halnya dengan Empedocles (500-430SM) yang mengatakan bahwa 4 unsur (tanah,
air, udara, api) dalam tubuh manusia yang mempengaruhi fisiologis sebagai dasar
aktivitas sehingga timbul siklus cinta dan perselisihan.
3. Pendekatan
matematis, ialah pendekatan yang memerikan
dari level material ke prinsip umum kehidupan manusia. Tokoh utamanya
Pythagoras (582-500SM) yang memberikan penjelasan bahwa segala sesuatu pastilah
mempunyai bilangan (kubik, meter, persegi, etc). Pendapatnya ini
disistematisasikan oleh muridnya yang bernama Hippocrates dengan memberikan
bilangan dasar yang lebih sistematis.
4. Pendekatan
Eklektik, yaitu orientasi secara campuran dalam
memandang manusia dan kehidupannya. Protagoras (481-411SM) memberikan penegasan
bahwa informasi yang berharga dari indera digunakan untuk petunjuk dan diolah
pikiran yang disesuaikan dengan pengetahuannya sebelumnya. Gorgias (485-380) menambahkan
bahwa penyimpanan dan penyesuaian informasi tersebut merupakan proses.
5. Pendekatan
humanistik, yaitu memandang manusia sebagai
individu yang memiliki karakteristik yang unik atau khas. Tokoh2nya antara
lain; Anaxogoras (488-428SM) yang menyatakan bahwa mahluk hidup dikendalikan
oleh ruh (nous) yang bersifat tak terbatas, mandiri dan tak bercampur
apapun. Sedangkan Socrates (470-395SM) berpendapat bahwa esensi keunikan
manusia berasal dari pemikiran yang khas.
Tokoh lain yang berada di luar
orientasi/ pendekatan tersebut namun mempengaruhi pemikiran Socrates ialah;
a. Plato
(427SM) yang mempunyai ajaran psycho-physical (mind-body).
Jiwa fana ada di kepala, jiwa baka ada di dada (konsep ESQ). Dari bumi
terciptalah tubuh, dan dari langit terciptalah jiwa (interaksi manusia dan
lingkungan).
b. Aristotle
(384-322SM). Ia mempunyai pemikiran tentang pengamatan perilaku
hewan yang digeneralisasikan kepada manusia (move, sensasi, reproduksi,
pertahanan diri). Metafisikan yang menjelaskan tentang naturalistik (kosmologi,
ontologi, epistemologi). Ia juga menyatakan bahwa mind (esensi) dan body
(eksistensi) yang berlaku dualisme.
Kesimpulannya bahwa pada zaman Yunani kuno ini merupakan awal pemikiran kehidupan dan
aktivitas manusia. Selain itu, pada masa itu pemikiran manusia telah
menggunakan pendekatan ilmiah, yaitu observasi dan generalisasi. Di masa inilah
mulai terdapat identifikasi dan strukturisasi metode ilmiah psikologi.
Paedagogi (Seni Mengajar)
13.31 | Diposting oleh
11054mcs |
Edit Entri
Paedagogi berasal dari bahasa Yunani “paedagogia“ yang berarti pergaulan
dengan anak-anak. Sedang paedagogos ialah seorang pelayan pada jaman
yunani kuno yang pekerjaannya mengantar dan menjemput anak-anak sekolah.
Paedagagos berasal dari kata “paid” yang artinya “anak” dan
“agogos”yang artinya “memimpin atau membimbing”. Dari kata ini maka
lahir istilah paedagogi yang diartikan sebagai suatu ilmu dan seni dalam
mengajar anak-anak. Dan dalam perkembangan selanjutnya istilah
paedagogi berubah menjadi ilmu dan seni mengajar.
Paedagogi juga merupakan suatu ilmu,
sehingga orang menyebutnya ilmu paedagogi. Ilmu paedagogi adalah ilmu
yang membicarakan masalah atau persoalan-persoalan dalam pendidikan dan
kegiatan-kegiatan mendidik, antara lain seperti tujuan pendidikan, alat
pendidikan, cara melaksanakan pendidikan, anak didik, pendidik dan
sebagainya.
Kemampuan paedagogi adalah sebagai berikut:
1. Kemampuan Mengelola Pembelajaran
2. Pemahaman terhadap Peserta Didik
3. Perancangan pembelajaran
4. Pelaksanaan Pembelajaran yang Mendidik dan Dialogis
5. Pemanfaatan Teknologi Pembelajaran
6. Evaluasi Hasil Belajar
Kemampuan paedagogi adalah sebagai berikut:
1. Kemampuan Mengelola Pembelajaran
2. Pemahaman terhadap Peserta Didik
3. Perancangan pembelajaran
4. Pelaksanaan Pembelajaran yang Mendidik dan Dialogis
5. Pemanfaatan Teknologi Pembelajaran
6. Evaluasi Hasil Belajar
Kemampuan mengelola pembelajaran yang baik harus dimiliki oleh seorang guru, oleh sebab itu untuk menjadi seorang guru yang baik diperlukan adanya kompetensi yang baik dan benar, baik dalam mengajar di kelas, menyediakan materi pembelajaran, menyediakan konsep, memberikan tugas maupun pertanyaan kepada siswa.
Guru harus mampu menciptakan suasana positif yang mampu mengembangkan potensi siswa lebih baik lagi. Guru yang baik harus mampu mengembangkan kurikulum dengan baik dan disesuaikan dengan latar belakang sosial, ekonomi dan budaya yang beragam. Kemampuan mengajar guru merupakan refleksi penguasaan guru atas kompetensinya. Menurut Imron (1995), ada 10 kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru yang baik: 1) menguasai bahan, 2) menguasai landasan pendidikan, 3) menyusun program pengajaran, 4) melaksanakan program pengajaran, 5) menilai proses dan hasil belajar, 6) menyelenggarakan proses bimbingan dan penyuluhan, 7) menyelenggarakan administrasi sekolah, 8) mengembangkan kepribadian, 9) berinteraksi dengan sejawat dan masyarakat, 10) menyelenggarakan penelitian sederhana untuk pengembangan pengajaran.
Ilmu paedagogi memberikan pemahaman yang baik kepada pelaku-pelaku pembelajaran untuk mampu menciptakan iklim belajar yang baik guna mendukung pengembangan potensi diri pada peserta ajar. Baik pemahaman akan kompetensi seorang guru, pemahaman akan penyajian materi yang baik, pemahaman akan penciptaan suasana belajar yang baik, pemahaman akan penggunaan sarana dan prasarana pendukung proses penbelajaran dengan baik.
Langganan:
Postingan (Atom)











